Daerah

Kota Tidore Disebut Jalur Strategis Perlintasan Narkoba

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tidore Kepulauan, mengindikasikan Tidore dengan Kota Santri tersebut merupakan jalur strategis perlintasan dan peredaran narkoba. Kota Tidore memiliki dua pintu masuk, yakni udara dan laut.

“Dari darat melalui Kabupaten Halmahera Tengah yang dipasok dari Papua, begitupun dari jalur laut” ujar Kepala BNNK Tikep, AKBP. Busranto Abdulatif Doa saat menyampaikan pres release di ruang rapat BNN Kota Tikep. Senin, 30 Desember 2019.

Dikatakan, lintasan narkoba berjenis ganja tersebut sering dilalui karena ada bebrapa titik persinggahan dan juga sebagai pasar transaksi.

“sebagian besar di wilayah oba, oba selatan maupun oba utara” ungkapnya.

Pernyataan Busranto tersebut dibuktikan dengan ditangkapnya pengedar kelas kakap, Kurdiawan Ahmad alias Kurdi, warga kelurahan Gamtufkange, Tidore. Penangkapan tersebut merupakan hasil kerjasama antara BNNK Tikep dan BNNP Provinsi Maluku Utara.

Kurdi di intai sejak awal agustus 2019. Kurdi kemudian di sergap berdasarkan surat perintah penangkapan dengan nomor SP.Kep/01/XII/2019/BNNK Tikep tertanggal 7 Desember 2019. Kurdi kemudian di bekuk di kelurahan Kasturian, Kota Ternate dengan barang bukti berupa 6 paket ganja siap beredar.

Dari Kardi baru diketahui bahwa ganja tersebut merupakan merupakan ganja yang di selundupkan dari Negara tetangga.

“itu ganja diselundupkan dari Papua Nugini ke Indonesia melalui Provinsi Papua Barat baru ke Maluku utara melalui gam range” ujar Busranto.

Selain merilis kegiatan pemberantasan, Busranto juga menyampaikan hasil pencapaian pencegahan dan pemberdayaan masyarakat di tahun 2019. Busranto menyebut bahwa untuk upaya pencegahan, pihaknya telah melakukan pelatihan maupun sosialiasi.

“BNNK Tidore Kepulauan telah melakukan sosialisasi tentang bahaya penyalagunaan narkoba sebanyak 34 kali dengan jumlah sebaran dari populasi, sekitar 8.748 orang yang menjadi objek sosialisasi dengan sasaran di seluruh lapisan masyarakat” ungkapnya.

Untuk penyebaran informasi, Busranto menyebut bahwa pihaknya telah melakukan dengan berbagai cara seperti Talk Show, insert conten, pemanfaatan media cetak dan online, serta pemasangan iklan.

“selain dari itu, juga dilakukan advokasi ke pemerintah kota tidore kepulauan yang menghasilkan dikeluarkannya instruksi walikota tidore kepulauan dengan nomor 354/486-01/2019 tentang rencana aksi daerah P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) tahun 2019 – 2022. Dan darisitulah terbentuknya 60 relawan anti narkoba” bebernya.

Disamping upaya pencegahan, lanjut Busranto, ada juga upaya pemberdayaan masyarakat yang juga terus dilakukan untuk menekan jumlah penggunaan dan memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya narkoba.

“upaya ini juga telah melahirkan 30 pegiat anti narkoba di lingkungan masyarakat dan 30 pegiat anti narkoba di lingkungan pendidikan” tegasnya.

Dirinya juga menyebut, hampir setiap hari, dua sampai lima orang melakukan tes urine baik dilakukan untuk keperluan tes maupun dilakukan dengan kemauan sendiri.

Sementara itu, Busranto mengakui bahwa untuk pencapaian rehabilitasi di kota tidore masi sangat rendah dari target 20 orang dari time line yang disusun BNNK Kota Tikep. “yang direalisai sampai dengan tanggal 30 hari ini sebanyak lima orang”

Ia berharap, untuk masyarakat kota tidore kepulauan yang terlibat narkoba sejak adiktif , agar melaporkan kepada pihaknya untuk melakukan penindakan rehabilitasi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close